Deskilling: Bagaimana Sekolah Mematikan Kemampuan Belajar Alami Anak


Bayangkan seorang anak kecil di tepi sawah Bekasi, dengan penuh rasa ingin tahu mengamati semut membangun sarang, menghitung jalur mereka, atau menanam benih sambil belajar siklus air. Itu adalah belajar alami—spontan, penuh gairah, tanpa paksaan. Tapi masukkan anak itu ke sekolah wajib, dan keajaiban itu lenyap. Digantikan oleh deretan meja, bel berdering seperti sirene penjara, dan hafalan tak berujung. 

Saya menyebut ini "deskilling"—proses sistematis di mana sekolah mematikan kemampuan belajar bawaan manusia. Bukan kebetulan, tapi desain: sekolah bukan pabrik pengetahuan, melainkan mesin yang merampas otonomi, mengubah pencari ilmu menjadi konsumen pasif. Saat anak-anak Indonesia bergulat dengan ujian nasional yang membunuh kreativitas, saatnya kita bongkar jebakan ini.

Deskilling dimulai dari hakikat manusia: kita dilahirkan pembelajar. Bayi merangkak mengeksplor, balita menyerap bahasa tanpa guru, remaja menguasai TikTok dalam semalam. Ini "innate learning abilities"—naluri adaptasi, rasa ingin tahu, kemampuan trial-and-error. 

Psikolog seperti Jean Piaget membuktikannya: anak belajar melalui tahap-tahap alami, dari sensorimotor hingga abstrak, didorong rasa haus pengetahuan. Tapi sekolah mematahkan itu. Di kelas overkapasitas madrasah Jawa Barat—40-50 anak per ruang—guru jadi diktator waktu: "Duduk diam! Hafalkan ini!" Rasa ingin tahu dipadamkan; eksplorasi diganti rutinitas. Hasil? Anak yang dulu petualang jadi robot hafalan, takut salah, alergi kegagalan.

Lihat mekanismenya: pertama, alienasi dari proses. Belajar alami holistik—tubuh, pikiran, emosi bersatu. Anak Belitung belajar ekologi dari pantai, matematika dari jaring ikan. Sekolah memisahkan: matematika di jam 8, olahraga jam 10, seni dipotong. Tubuh dikurung, gerak dibatasi—penelitian menunjukkan anak duduk 6 jam/hari kehilangan 20% kemampuan kognitif. Kedua, hierarki paksa. Guru sebagai "ahli tunggal" membunuh peer learning. Di masyarakat adat Dayak, anak belajar dari tetua via cerita; sekolah ciptakan kompetisi: nilai A vs F, ranking kelas. Ini deskilling sosial—anak lupa kolaborasi alami, lahirkan individualisme egois.

Ketiga, standarisasi membunuh variasi. Setiap anak unik: si visual butuh gambar, kinestetik butuh menyentuh. Sekolah paksa satu kurikulum nasional—UN yang absurd, di mana anak Jakarta hafal sejarah Toraja tanpa konteks. Montessori dan Reggio Emilia membuktikan: lingkungan bebas dorong bakat bawaan. Sekolah? Iatrogenik, seperti obat yang sakitkan pasien—Illich bilang, institusi ciptakan ketergantungan. Di Indonesia, 1,5 juta anak putus sekolah tiap tahun (BPS), bukan karena malas, tapi deskilled: sekolah matikan motivasi intrinsik, lahirkan apati.

Dari kacamata anarcho-sosialis, ini kontra-revolusi. Sekolah lahir era industri Prusia: ciptakan buruh taat, bukan pembebas. Kapitalisme butuh pekerja deskilled—mudah digaji rendah, tak berani bersekutu. Di pabrik Bekasi , lulusan SMK hafal conveyor belt, tapi tak paham hak buruh atau inovasi. Anak miskin terperangkap: sekolah janjikan mobilitas sosial, tapi perpetuasi kelas—elit ke UI, rakyat kecil ke voucher palsu. Kropotkin ajarkan mutual aid: belajar komunal, bukan kompetitif. Sekolah atomisasi: anak takut berbagi, takut kalah.

Bukti empiris membanjir. Di AS, homeschooler unggul 15-30% (NHERI), belajar alami via proyek. Finlandia singkatkan jam sekolah, tambah main—PISA top dunia. Indonesia? Skor PISA mentok bawah, depresi remaja 15-20% (Kemenkes), bullying 30% (UNICEF). Deskilling nyata: lulusan sarjana underemployed 50%, kerja barista meski punya gelar—kredensial palsu tutupi hilangnya skill bawaan.

Solusi? Deschooling! Bangun jaringan belajar sukarela: tetangga Bekasi tukar skill—nenek ajar masak, pemuda coding app banjir. Pod komunitas: orang tua rotasi fasilitator, anak pimpin proyek ladang hidroponik. Tech convivial: Khan Academy, YouTube magang—gratis, mandiri. Pemerintah? Voucher opt-out, bukan monopoli. Ukur sukses dengan senyum dan kemandirian, bukan rapor.

Deskilling bukan kecelakaan—ini senjata kelas penguasa. Anarcho serukan: rebut belajar alami! Orang tua, cabut anak dari penjara itu. Guru, jadi katalisator bukan sipir. Anak, Anda pencari ilmu bawaan—jangan biarkan sistem sekolah merampasnya. 

Revolusi dimulai di halaman rumah: tanam benih, bangun sarang semut, pelajari dunia. Bebaskan kemampuan bawaan sebelum generasi hilang. Belajar hidup, bukan sekolah mati. Api deskilling padam—nyalakan obor rasa ingin tahu!

Share on Google Plus

About Erwin Mae

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar